Pendakian Sindoro dan Evaporasi, Evapotranspirasi (1)

“Besok pagi ke Sindoro yuk?”

Sabtu pagi itu sebuah sms tiba-tiba nangkring di hp saya. Setelah berpikir sejenak. Tak berapa lama langsung saya reply “oke deh, bsk berangkat jam berapa?”

….

Demikian awal cerita pendakian saya ke Sindoro. Gunung yang berlokasi di perbatasan Temanggung – Wonosobo Jawa Tengah dan memiliki ketinggian 3.153 m dpal.

Hari minggu pagi-pagi saya dan Prapti berangkat dari Jogja. Kami berencana mendaki Sindoro lewat jalur kledung. Perjalanan dari Jogja ke Kledung memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan menggunakan bis. Turun di Kledung kami langsung menuju basecamp Sindoro yang berlokasi tak jauh dari jalan raya. Sekilas saya menatap Gunung Sumbing, saudara kembar Sindoro. Ya, Gunung sindoro dan Gunung sumbing sangat berdekatan, hanya terpisah oleh jalan raya.

Saudara Kembar G. Sindoro (G. Sumbing) dari Jalan Raya menuju basecamp Sindoro

Saudara Kembar G. Sindoro (G. Sumbing) dari Jalan Raya menuju basecamp Sindoro

Nggak lama kami di basecamp, mungkin hanya sekitar 30 menit setelah itu langsung memulai pendakian.

Perjalanan pertama dari basecamp kita melewati permukiman.  Setelah itu  ladang penduduk. Tanaman yg dominan di ladang adalah tembakau dan kubis. Jalanan di permukiman dan ladang tidak terlalu menanjak. Di batas akhir ladang ada batu besar dan tikungan. Setelah itu jalanan mulai sedikit menanjak. Jalan dari batas ladang ke pos 1 banyak ditumbuhi pohon-pohon. Menjelang siang kami sampai di pos 1. Pos ini berupa tanah yang agak lapang dan ada tulisan yang penanda. Kami sholat dan istirahat sejenak disini. Setelah beberapa lama, perjalanan dilanjutkan. Dari pos 1 ke pos 2 kita akan melewati 2 punggung gunung. Ada bonus jalan menurun dan ada 2 jembatan kayu. Mulai dari pos 2 ke pos 3 adalah perjuangan. Karena jalannya mulai mendaki. Semakin mendekati pos 3 jalan semakin penuh dengan batu dengan tanjakan-tanjakan yang cukup tinggi.

Sore hari alhamdulillah tenda akhirnya berdiri di pos 3 yang berada di ketinggian 2.530 m dpal. Di depan mata tampak Gunung Sumbing berdiri dengan gagahnya. Hmm….asyiknya. Langsung deh saya buka perbekalan. Sore itu saya makan sereal jagung campur susu.

Ternyata sore itu tak terlalu lama bisa dinikmati. Selepas magrib hujan mulai turun dengan derasnya. langsung deh kita masuk ke tenda dan berharap bisa langsung tidur. Udara sangat dingiin….. saya nggak bisa tidur. Kedinginan. Bolak balik tetep aja nggak bisa tidur, sementara prapti udah bisa tidur dgn pulasnya. Jam 12 malem hujan berhenti. Saya sempat keluar dari tenda sebentar dan subhanallah…..tampak kerlap-kerlip lampu di kaki Gunung Sumbing. Indah sekali. Balik lagi ke tenda lalu zzz…….terbang ke alam minpi..hehe..

Pagi2 kami sudah bersiap-siap untuk mendaki kepuncak. Barang-barang yang memberatkan ditinggal di tenda. Saya sendiri hanya bawa tas yg berisi makanan minuman dan kamera. Jas hujan aja nggak bawa (that’s my mistake).

Perjalanan dari pos 3 ke atas hampir sama beratnya dengan perjalanan dari pos 2 ke pos 3 yg penuh dengan batu-batu. tetapi saya merasa perjalanan pagi itu lebih mudah daripada kemaren. Mungkin karena tidak membawa beban yang berat, juga karena energinya masih baru. Baru beberapa saat berjalan, mentari terbit di ufuk timur. Subhanallah….indah sekali. tak jauh dari sunrise terlihat deretan gunung-gunung: Gunung Merbabu, Gunung Merapi dan tentu saja Gunung Sumbing.

Sunrise dari G. Sindoro. Tampak G. Merbabu, G. Merapi, G. Sumbing

Sunrise dari G. Sindoro. Tampak G. Merbabu, G. Merapi, G. Sumbing

Cukup lama kami menikmati sunrise…sambil foto-foto tentunya (haha….narsis… :tetep: ). Tampak Kota Parakan di sebelah timur tertutup kabut. Wah..pasti udara disana dingin sekarang.

Oke lanjut…. Medan yang terhampar di depan mata masih pepohonan perdu dan lamtoro. Setelah itu pepohonan mulai jarang hanya sesekali, berganti dengan rumput dan batu. Saya menyusuri jalanan pendaki yang juga merupakan jalan air.

Hari mulai beranjak siang. Jalan semakin nanjak. Saya juga makin sering beristirahat (mestinya nggak boleh) sambil melihat pemandangan dari atas. Kabut yang tadinya menutupi Kota Parakan dan wilayah permukiman pelan-pelan mulai naik ke atas dan membentuk awan. Begitu pula dari vegetasi (pohon-pohonan) mulai tampak air yang naik lalu semakin naik dan membentuk awan. Hei…..itu kan Proses Evaporasi. Evaporasi adalah proses naiknya air di permukaan tanah ke udara. Sedangkan Evapotranspirasi adalah proses naiknya air dari tanah dan tumbuh tumbuhan. Dalam daur Hidrologi air yang menguap melalui proses evaropasi dan evapotranspirasi akan naik ke atmosfer menjadi awan. Jumlah air di Bumi ini tetap. Tidak bertambah, juga tidak berkurang. Awan adalah air yang melayang-layang di atmosfer. Awan yang telah megalami titik jenuh akan turun menjadi hujan (lebih tepatnya disebut presipitasi).

Sejenak saya terpana. Di darat proses ini tidak terlihat. Tetapi di ketinggian gunung, kita bisa melihat proses ini dengan sangat jelas. Maha Suci Engkau Yaa Rabb yang telah menciptakan alam ini dengan begitu sempurnanya. Engkau berikan panas, Engkau berikan hujan, dan dari hujan itu ditumbuhkan tanaman juga sebagai air minum. Sungguh manusia yang masih mengeluhkan tentang panas dan hujan adalah manusia yang tidak bersyukur.

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?”

“Kalau kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?”

QS. Al Waqi’ah 68-70

.

bersambung ke…..Pendakian Sindoro dan Evaporasi, Evapotranspirasi (2): Lost!

~ oleh honeysweet pada 23 Mei 2011.

7 Tanggapan to “Pendakian Sindoro dan Evaporasi, Evapotranspirasi (1)”

  1. wah…dulu aku jg pernah kesana hen,,tp ga bisa sampe puncaknya habis puncaknya banyak amat ya…jd bingung yang paling puncak yang mana ya…hehehehe…..coba dulu kita bareng hen naek sindoronya….pasti seru banget…hahay…😀

    • bener yan…ni gunung punya 2 ato 3 puncak bayangan. padahal dah seneng2, kirain dah nyampe …..eh ternyata masih jauuh…hehe…
      btw kapan ke jogja…. ayo muncak hehe….

  2. jadi pengen nih😀

  3. yang mau ke sana bulan desember 2011 siapaaa????

  4. […] tulisan Pendakian Sindoro dan Evaporasi, Evapotranspirasi (1). Maap baru sekarang sempet […]

  5. wah…jadi tambah kangen naik gunung, kalau aku asli wonosobo, jadi masa2 SMA hampir tiap bulan, bahkan bisa beberapa kali dallam sebulan naik ke Sindoro/Sumbing. Terakhir ke Sindoro sekitar 95-96, pas baru lulus kuliah, begitu nikah belum pernah sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: